BAPAK… IBU… ANDA HARUS TAHU!!!
Oleh: Khamid, M.Pd.
Fenomena dekadensi moral sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, beberapa tahun belakangan ini tampak makin parah sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Adanya modernisasi diharapkan dapat membawa kemajuan suatu bangsa meskipun belum semua generasi siap untuk menghadapinya. Dampaknya, sesuatu yang berbau digital justru digunakan untuk hal-hal yang kurang berguna, khususnya para remaja. Sehingga hal ini akan berdampak pada perubahan pola berpikir, bertindak, gaya hidup, sosial, dan budaya yang akan berpengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa.
Berangkat dari hal tersebut, banyak orang tua yang resah dengan kondisi anak-anak mereka saat ini. Banyak ditemui sekumpulan remaja ataupun anak-anak yang nongkrong dengan ponsel di tangannya. Baik ngegame ataupun melihat konten-konten yang mungkin dapat memengaruhi bahkan merusak pola pikir mereka. Jika hal ini terus dibiarkan, lambat laun dampak negatif lah yang akan mereka terima. Oleh karena itu, orang tua harus mengambil sikap ataupun tidakan preventif agar anak mereka tidak jatuh terlalu dalam ke hal-hal negatif.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan memasukkan anknya ke pondok pesantren guna mendapatkan pendidikan moral dan agama. Suatu keberuntungan bagi orang tua yang anaknya mau belajar di pondok pesantren. Betapa tidak? Orang tua hanya tinggal duduk manis di rumah sambil mencari nafkah tanpa harus berpikir bagaimana anak berpolah. Kegiatan anak selama di pesantren akan dipantau langsung oleh pengurus yang menjadi wali kedua bagi anak.
Hanya saja, perlu diketahui bahwa pondok pesantren hanyalah sarana pendidikan dan bukan penentu mutlak kesuksesan pendidikan sang anak. Orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan di pesantren. Sehingga keberadaan orang tua sangat berperan penting dalam perjalanan seorang anak dalam menuntut ilmu. Nah, ada beberapa hal yang harus diketahui oleh orang tua agar anaknya berhasil menuntut ilmu di pesantren, yaitu:
- Niat dan tekad yang kuat
Orang tua harus berniat ikhlas dan totalitas untuk memondokkan anak agar mencari ilmu agama sebanyak-banyaknya dan rida guru. Niat yang kurang totalitas akan berdampak langsung kepada anak ketika ada masalah di pesantren. Jangan sampai orang tua memondokan anaknya karena saat di rumah nakalnya kelewat batas, lalu orang tua melimpahkan semua tanggung jawab mendidik anak kepada pihak pondok pesantren tanpa membantu atau mengambil peran apapun di dalamnya.
- Pasrah kepada pengasuh pondok
Hal pertama kali yang harus dilakukan oleh orang tua saat memasukkan anaknya ke pesantren adalah pasrah kepada kiai atau pengasuh pondok. Tidak salah juga manakala sekalian meminta doa restu. Hal ini menjadi kunci utama untuk menggapai restu dan rida kiai dalam pencarian ilmu. Ketika ikrar terucap, segala hal yang berkaitan dengan proses belajar anak sudah menjadi tanggung jawab pesantren. Orang tua cukup memantau dan mendoakan dari rumah.
- Tidak berlebihan memberikan uang saku
Salah satu keberhasilan dalam pencarian ilmu seorang anak sebagaimana dalam kitab Ta’limul Muta’allim adalah adanya dukungan materi yang kuat. Kuat disini berarti cukup. Orang tua jangan terlalu berlebihan dalam memberikan uang saku pada anak. Karena hal ini akan berakibat pada pola hidup anak yang menjadi hedonis. Padahal, pesantren identik dengan kesederhanaan, keperihatinan, dan apa adanya. Bagi sebagian orang tua, mungkin hal ini bukan menjadi suatu masalah asalkan anak menjadi tambah semangat dalam mencari ilmu. Namun, alangkah baiknya berikan uang saku sesuai kebutuhan. Ajari mereka untuk dapat mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya.
- Menjalin komunikasi yang baik dengan pesantren
Selama belajar di pesantren, terkadang ada beberapa masalah yang dialami anak. Seperti halnya tidak betah, barang-barang hilang, ada laporan kasus ini dan itu, perundungan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini sebaiknya orang tua intens berkomunikasi dengan pengampu kamar atau pengurus. Sebaiknya orang tua tidak langsung membenarkan apa yang disampaikan anak ketika ada masalah tanpa kroscek terlebih dahulu dengan pengurus. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara orang tua dan pihak pesantren. Kalaupun ada masalah, dapat diselesaikan dengan jalur musyawarah.
- Memantau kualitas belajar anak
Salah satu hal penting yang tidak boleh dilupakan orang tua adalah rajin memantau perkembangan anak. Hal ini dapat dilakukan dengan berkoordinasi atau menanyakan langsung kepada pengampu kamar, pengurus, maupun guru madrasah. Hal sederhana namun dapat membawa dampak yang luar biasa terhadap perkembangan anak. Kepedulian orang tua terhadap proses belajar anak dapat membawa motivasi tersendiri bagi buah hati. Jadi, pantaulah perjalanan perkembangan anak dalam belajar minimal sebulan sekali. Jika sang anak belum menunjukkan perubahan yang signifikan, dapat meminta bantuan pengurus atau pengampu untuk terus memotivasi, memantau, dan mengedukasi agar bertambah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
- Membesarkan mental/hati anak
Masalah tidak betah di pesantren sudah biasa dialami oleh anak, khususnya santri baru. Ada beberapa faktor penyebab mereka tidak betah, mulai dari kasus kehilangan barang, faktor teman, atau tersandung kasus pelanggaran pesantren. Yang harus dilakukan orang tua adalah menguatkan mental anak. Ajari mereka cara menyelesaikan masalah untuk melatih kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Orang tua tidak perlu ikut intervensi terlalu dalam tentang kebijakan pesantren. Insyaallah apa yang dirumuskan oleh pesantren sudah melalui kajian yang matang dan mendapat persetujuan dari pengasuh.
- Memberi edukasi ketika anak di rumah
Saat libur pondok tiba, tak jarang banyak anak yang melakukan upaya balas dendam. Ketatnya peraturan di pesantren, baik dalam tata cara berpakain, pengoperasian HP, hubungan dengan lawan jenis, jadwal kegiatan dan lain-lain seolah mengekang kebebasan anak. Sehingga, begitu momen liburan tiba, semua peraturan pesantren menantang untuk dilanggar. Tugas orang tua di sini sangat penting agar apa yang sudah didapatkan di pondok tidak hilang begitu saja. Selama anak di rumah, orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi anak agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan mereka dan bisa menimbulkan hilangnya jati diri sebagai seorang santri.
- Bacakan Selawat Nariyah 41 kali
Selain dukungan materi, orang tua juga harus memberikan dukungan spiritual dengan mendoakan anaknya setiap hari agar mendapat kemudahan, keselamatan, dan keberhasilan dalam segala hal. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan adalah dengan membacakan Surat Al-Fatihah selepas salat fardu. Lebih sempurnanya lagi ditambah dengan Selawat Nariyah 41 kali. Jika dirasa terlalu berat karena keterbatasan waktu, Selawat Nariyah dapat dibaca 11 kali pada pagi hari dan 11 kali pada malam hari. Untaian doa yang dilantunkan orang tua akan dapat langsung dirasakan oleh anak di pesantren.
Demikianlah beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi orang tua untuk menggapai kesuksesan anak selama belajar di pesantren. Tentunya masih banyak hal lain yang dapat dilakukan orang tua, karena setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga cara penanganannya pun juga berbeda. Wallahu A’lam
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Pelukan dan Ciuman di Tempat Umum, Sudahkah Dianggap Biasa?
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Ngeri. Fenomena kemesraan yang bebas ditampilkan di tempat umum, seperti pelukan dan ciuman tanpa ikatan sah, menjadi pemandangan yang semakin bia
Menjadi Guru Ideal Itu Sulit!
Oleh: Miftahurrohman Menjadi seorang guru adalah impian banyak orang. Penulis pernah melakukan sebuah survey sederhana dengan memberikan pertanyaan “Cita-cita-mu nopo, Le
Kenali Tingkat Pikiran Kita Yuk!
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berkumpul dengan teman, kolega, saudara, tetangga dan lainnya, selalu saja ada yang kita diskusikan, kita
Punya Anak Kok Malah Mondok? Mau Jadi Apa?
Oleh: Achmad Fauzi, S.S. Memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati adalah cita-cita setiap orang tua. Tidak peduli apapun rintangannya, orang tua akan berjuang habis-habisa
KEINGINAN TANPA KESUNGGUHAN ADALAH KEGILAAN
Oleh: Siti Nurrohmah Coba pikirkan kembali, apa makna kerja keras bagimu? Apakah kerja keras berarti kita harus bekerja tanpa pantang menyerah meskipun kesulitan dan halangan s
Hadiah dari Tuhan
Oleh: Siti Badriyah, S.Psi. Menjadi guru bukan hal mudah. Selain dituntut memiliki pengetahuan, kita juga dituntut memiliki akhlak yang baik. Belum lagi tuntutan administrasi y

