Hadiah dari Tuhan
Oleh: Siti Badriyah, S.Psi.
Menjadi guru bukan hal mudah. Selain dituntut memiliki pengetahuan, kita juga dituntut memiliki akhlak yang baik. Belum lagi tuntutan administrasi yang tak ada habisnya. Mulai dari menulis jurnal, daftar kehadiran, laporan wali kelas, ceklist hafalan, membuat soal penilaian, juga mengoreksi pekerjaan siswa. Ada lagi tugas administrasi yang belum dikerjakan saja, lelahnya sudah dirasakan, ya, betul, perangkat pembelajaran. Percayalah, itu semua dibutuhkan demi tegaknya kedisiplinan.
Sekali lagi, tugas kita memang tidak mudah. Kita tahu betapa lelahnya berbicara dan membimbing anak-anak dari satu kelas ke kelas yang lain. Lalu betapa sulitnya, menenggelamkan kesedihan, dan pura-pura tegar, tatkala sedang mengajar. Apalagi saat mengingat tanggung jawab di rumah belum tertunaikan. Pun ketika kita, harus mengolah rasa, menahan amarah, saat melihat anak-anak mulai mengabaikan pelajaran.
Memang, sulit sekali menahan emosi. Apalagi jika kita sedang menjelaskan, alih-alih menghargai guru, siswa malah sibuk mengobrol, mengerjakan tugas lain, dan payahnya lagi ada yang tidur dengan nyenyaknya. Dalam hal ini, guru kita semua, K H Maimoen Zubair dalam buku biografinya berjudul Pesan Cinta Mbah Moen telah memberikan nasihat,"Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati diuji kesabarannya. Namun hadirkan lah gambaran bahwa di antara satu dari mereka, akan menarik tangan kita menuju surga."
Nasihat di atas tentu bisa menjadi pengingat yang melegakanan. Bahwa segala hal yang kita lakukan memang tidak mudah, namun akan ada hal indah yang kita dapatkan. Semua itu tentu kembali pada niat kita. Mbah Moen lagi-lagi memberikan pesan, bahwa niat membuat murid pintar, hanya akan menimbulkan amarah saat melihat mereka tidak pintar. Guru pun kehilangan keikhlasan. Maka niatkanlah menyampaikan ilmu dan mendidik dengan baik. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah SWT. Bukankah Allah sudah menyerukan kepada kita semua dalam Q.S. Ar-Ra'd, bahwa tidak akan berubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mau mengubahnya sendiri.
Jadi, selama kita sudah berusaha mengajar dengan baik (sudah sesuai dengan prosedur), mengingatkan dan memberi perhatian kepada anak-anak, menasehati dengan ikhlas, kita telah sampai pada batasnya. Alih-alih pasrah dalam mengajar, kita telah mengusahakan yang terbaik. Adakah yang lebih berhak atas kepintaran seseorang selain Tuhannya?
Di sinilah, keteladanan kita sebagai guru juga diuji. Semoga kita tidak lupa dengan semboyan Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan di Indonesia, "ing ngarsa sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Jauh-jauh hari, beliau telah menyerukan kepada seluruh guru, sikap dan perilaku kita kepada murid, juga akan terinternalisasi ke dalam jiwa mereka. Maka hendaklah kita bersikap bijak, dan berhati-hati dalam berperilaku.
Terlepas dari itu semua, tak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia biasa, kita tidaklah sempurna. Maka kekhilafan-kekhilafan yang telah kita lakukan, semoga tak menghalangi keridhoan Allah kepada kita. Sebab apalagi yang kita cari di dunia, jika bukan ridho-Nya? Lalu adakah hadiah yang lebih didambakan oleh seorang guru selain do’a dari Allah dan Malaikatnya?
Dari Abu Hurairah Al Bahili, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut di lubangnya, dan ikan mengucapkan doa kepada pengajar kebaikan kepada manusia." Semoga ini menjadi kabar baik yang meringankan langkah kita, untuk menjadi guru yang dinantikan siswa di kelas. Amin.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Pelukan dan Ciuman di Tempat Umum, Sudahkah Dianggap Biasa?
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Ngeri. Fenomena kemesraan yang bebas ditampilkan di tempat umum, seperti pelukan dan ciuman tanpa ikatan sah, menjadi pemandangan yang semakin bia
Menjadi Guru Ideal Itu Sulit!
Oleh: Miftahurrohman Menjadi seorang guru adalah impian banyak orang. Penulis pernah melakukan sebuah survey sederhana dengan memberikan pertanyaan “Cita-cita-mu nopo, Le
Kenali Tingkat Pikiran Kita Yuk!
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berkumpul dengan teman, kolega, saudara, tetangga dan lainnya, selalu saja ada yang kita diskusikan, kita
Punya Anak Kok Malah Mondok? Mau Jadi Apa?
Oleh: Achmad Fauzi, S.S. Memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati adalah cita-cita setiap orang tua. Tidak peduli apapun rintangannya, orang tua akan berjuang habis-habisa
KEINGINAN TANPA KESUNGGUHAN ADALAH KEGILAAN
Oleh: Siti Nurrohmah Coba pikirkan kembali, apa makna kerja keras bagimu? Apakah kerja keras berarti kita harus bekerja tanpa pantang menyerah meskipun kesulitan dan halangan s
BAPAK… IBU… ANDA HARUS TAHU!!!
Oleh: Khamid, M.Pd. Fenomena dekadensi moral sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, beberapa tahun belakangan ini tampak makin parah sejalan dengan pesatnya perkembang

