Punya Anak Kok Malah Mondok? Mau Jadi Apa?
Oleh: Achmad Fauzi, S.S.
Memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati adalah cita-cita setiap orang tua. Tidak peduli apapun rintangannya, orang tua akan berjuang habis-habisan sembari berharap kelak anak-anaknya bisa menghadapi lika-liku kehidupan dunia dengan baik. Tidak pernah ada dalam sejarah orang tua yang membiarkan anak-anaknya besar tanpa pendidikan yang baik, kecuali orang tua bermasalah.
Ada dua pandangan masyhur mengenai definisi pendidikan yang baik bagi anak. Satu kelompok orang tua mendidik anaknya dengan fokus pada bidang-bidang keilmuan umum. Kelompok ini beranggapan bahwa untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi di masa mendatang, anak-anaknya cukup dibekali dengan ilmu-ilmu dan keterampilan duniawi. Mereka akan berjuang mati-matian mendaftarkan anak-anaknya di sekolah negeri atau universitas favorit di kotanya. Harapannya kelak sang anak bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Entah menjadi akuntan di perusahaan besar atau bekerja untuk negara. Jika ilmu agama kurang menjadi pertimbangan, maka pandangan ini tidaklah luput sama sekali.
Kelompok lainnya berpandangan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang seimbang. Mereka percaya bahwa untuk menghadapi tantangan masa depan anak wajib dibekali ilmu umum juga agama. Pandangan ini membuat mereka berbondong-bondong mendaftarkan anaknya ke pondok-pondok pesantren. Tak cukup dalam kota, banyak dari orang tua yang rela menerobos batas jarak dan waktu demi memasukkan anaknya ke pesantren terbaik. Bagi mereka, keberhasilan buah hatinya bukanlah melulu soal keberhasilan di dunia, tapi juga di akhirat.
Meskipun demikian, tak jarang mereka digoncang dengan keraguan-keraguan kecil terkait nasib anaknya di masa depan. Pertanyaan-pertanyaan semacam “Apakah nanti anakku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak?”, “Bagaimana jika nanti anakku tidak bisa mencari uang?”, “Apakah aku sanggup membiayai anakku masuk pesantren hingga lulus?”, atau “Apakah keputusan memasukkan anakku ke pesantren sudah tepat?” terkadang muncul dalam benak mereka. Wajar jika pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul mengingat prioritas pesantren bukan memberikan keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja. Ditambah lagi mungkin kehidupan orang tua yang terkadang tidak baik-baik saja. Tulisan ini adalah sebuah motivasi untuk meyakinkan para orang tua yang masih merasa ragu dengan masa depan anaknya di pesantren.
Kenapa Mondok?
Mari lihat kembali alasan-alasan orang tua memondokkan anaknya. Alasan orang tua memondokkan anak bisa sangat beragam. Berikut adalah beberapa alasan yang paling sering diungkapkan:
- Memperdalam Ilmu Agama
Ini adalah alasan yang paling jamak diungkapkan. Dunia ini dipenuhi dengan perkara hak-batil dan makruf-mungkar. Agama bagi anak adalah lentera yang menerangi jalan hidup dan matinya. Jika orang tua telah memberikan pendidikan agama yang baik ke anak melalui pesantren, maka tanggung jawab orang tua di hadapan Allah Swt. telah tertunaikan. Lunas. Orang tua telah mengenalkan siapa Tuhan Sang Anak sehingga dia mengerti apa yang Allah Swt. benci dan cintai.
- Menumbuhkan Karakter Luhur
Setiap orang tua pasti berharap kelak anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang solih-solihah. Dengan banyaknya kabar buruk yang datang dari dunia pendidikan di luaran sana, pondok pesantren menjadi alternatif terbaik untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada diri anak. Benar bahwa tidak ada jaminan sama sekali jika lulusan pesantren pasti menjadi pribadi yang baik. Namun segala sesuatu yang dibesarkan di lingkungan yang baik, kelak diharapkan tumbuh menjadi baik pula.
- Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi dan Bersosial
Seperti diketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial. Keberadaannya akan dan senantiasa bergantung dengan manusia lainnya. Pondok pesantren adalah tempat terbaik bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosial. Anak akan belajar tentang bagaimana hidup berdampingan dengan anak-anak yang lain. Dia akan menjumpai berbagai macam karakter, emosi, dan sikap untuk kemudian belajar tentang bagaimana memberikan respon yang baik. Ini akan menjadi bekal penting bagi anak untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Kalau Mondok Mau Jadi Apa?
Dengan melihat berbagai alasan di atas, maka pertanyaan tersebut menjadi lebih mudah dijawab. Berikut adalah jawaban atas pertanyaan tersebut:
- Usia Anak—Remaja Adalah Usia Emas untuk Mengembangkan Karakter
Usia Anak—Remaja adalah waktu yang paling tepat untuk menumbuhkan karakter baik bagi anak. Anak seharusnya diberikan pengetahuan untuk mengenali diri sendiri juga lingkungannya. Nilai-nilai baik harus ditanamkan bersamaan dengan keterampilan sosial seperti komunikasi, kerja sama, pemikiran kritis, adaptasi, dan resolusi konflik. Pondok pesantren menyediakan ini semua bagi anak. Memberikan pertanyaan semacam “Kalau mondok mau jadi apa?” adalah pertanyaan yang terburu-buru dan merenggut hak anak untuk mengeksplorasi diri.
- Keterampilan Dunia Kerja Bisa Dicari Nanti
Dibandingkan dengan menumbuhkan karakter luhur yang memerlukan waktu bertahun-tahun, keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan jauh lebih mudah dipelajari. Di zaman akses informasi menjadi tidak terbatas ini, ada ratusan bahkan ribuan tempat untuk belajar mengenai satu keterampilan. Misal, anak mondok hingga tamat MA, ia masih punya banyak waktu jika ia ingin belajar hal lain yang ia senangi seperti ilmu komputer, keuangan, dll. Anak tidak akan pernah terlambat belajar keterampilan dunia kerja hanya karena dia dipondokkan.
- Karakter yang Baik Adalah Kunci
Jika berbicara mengenai dunia kerja, akhlak dan etos kerja jauh lebih dihargai daripada keterampilan. Seorang bos akan lebih menghargai karyawannya yang memiliki sikap terpuji dengan keterampilan pas-pasan dan mau belajar daripada harus mempekerjakan karyawan dengan keterampilan tinggi tapi arogan. Pondok pesantren selama ini terbukti dapat melahirkan lulusan berkompeten dengan akhlakul karimah yang masuk di berbagai lini dan bidang pekerjaan. Mengerdilkan sumbangsih anak-anak pesantren di dunia kerja tentu sangat tidak adil.
- Pondok Pesantren Memiliki Program untuk Meningkatkan Lifeskill
Orang tua yang saat ini akan atau sedang memondokkan anak di pondok pesantren sebenarnya tidak perlu risau. Selain diberikan pendidikan karakter yang amat baik, anak juga mendapatkan berbagai macam program untuk meningkatkan pengetahun dan keterampilan hidup. Saat ini banyak sekali pondok pesantren yang dengan khusus menyediakan latihan-latihan untuk meningkatkan lifeskill baik secara formal maupun non-formal, struktural maupun non-struktural. Ketakutan tentang anak pondok akan kesulitan menyesuaikan dengan tantangan zaman sebenarnya sudah tidak relevan lagi.
- Mondok Adalah Jalan Mencapai Rida Ilahi
Terlepas dari obrolan tentang dunia kerja, sebenarnya tujuan mondok tidak pernah muluk-muluk. Orang tua sesungguhnya sedang menekuni jalan mencapai rida Allah Swt.. Tidak lebih tidak kurang. Masalah duniawi menjadi lebih mudah jika Allah Swt. telah meridai. Dia telah menjamin kehidupan makhluk-Nya yang berjuang dalam mencapai rida-Nya dan akan senantiasa demikian. Hilangkan semua keraguan kepada-Nya karena Dia akan selalu ada dalam langkah para hamba yang percaya pada-Nya.
Lalu, kalau mondok mau jadi apa? Jawabannya adalah untuk menjadi manusia yang mengenal Tuhan dan mencari rida-Nya. Mondok tidak pernah bertujuan membentuk anak untuk mencari materi duniawi yang sifatnya rusak dan sementara. Ada sebuah tujuan yang jauh lebih mulia di dalamnya, yaitu Tuhannya.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Pelukan dan Ciuman di Tempat Umum, Sudahkah Dianggap Biasa?
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Ngeri. Fenomena kemesraan yang bebas ditampilkan di tempat umum, seperti pelukan dan ciuman tanpa ikatan sah, menjadi pemandangan yang semakin bia
Menjadi Guru Ideal Itu Sulit!
Oleh: Miftahurrohman Menjadi seorang guru adalah impian banyak orang. Penulis pernah melakukan sebuah survey sederhana dengan memberikan pertanyaan “Cita-cita-mu nopo, Le
Kenali Tingkat Pikiran Kita Yuk!
Oleh: Muslih Al Badri, S.Hum. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berkumpul dengan teman, kolega, saudara, tetangga dan lainnya, selalu saja ada yang kita diskusikan, kita
KEINGINAN TANPA KESUNGGUHAN ADALAH KEGILAAN
Oleh: Siti Nurrohmah Coba pikirkan kembali, apa makna kerja keras bagimu? Apakah kerja keras berarti kita harus bekerja tanpa pantang menyerah meskipun kesulitan dan halangan s
BAPAK… IBU… ANDA HARUS TAHU!!!
Oleh: Khamid, M.Pd. Fenomena dekadensi moral sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, beberapa tahun belakangan ini tampak makin parah sejalan dengan pesatnya perkembang
Hadiah dari Tuhan
Oleh: Siti Badriyah, S.Psi. Menjadi guru bukan hal mudah. Selain dituntut memiliki pengetahuan, kita juga dituntut memiliki akhlak yang baik. Belum lagi tuntutan administrasi y

