Harga Sebuah Pertemanan
Cerpen karya Siti Alifatul M (9D)
Pagi ini matahari bersinar cerah. Di depan gedung SMA yang megah, dua orang siswi yang sangat akrab sedang bercengkrama. Mereka adalah Caistal Saqueenby dan Senja Selviani. Caistal memiliki sifat ramah, rajin, dan peduli terhadap sesama. Sahabatnya, Senja Selviani, adalah pribadi yang baik tapi terkadang ia mudah terbawa pergaulan. Namun keduanya saling melengkapi.
Pagi ini mereka berdua berangkat bersama dengan menggunakan mobil milik Caistal untuk menuju sekolah mereka. Di tengah perjalanan, mereka bercanda dengan asik dan tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Mobil yang dikendarai Caistal menuju parkiran sekolah. Mereka berdua memiliki kelas yang sama, sehingga mereka selalu bersama jika berada di sekolah. Mereka bersama sejak duduk di kelas 1 SMP karena dulu mereka adalah 2 orang yang selalu dihukum karena sering membolos ketika jam pelajaran berlangsung.
Di pagi hari, sekolah mereka kedatangan siswa baru yang bernama Leo Bratama, ia sering dipanggil Leo. Leo adalah cowok pindahan dari luar kota karena pekerjaan orang tuanya. Cowok yang keren, cuek dan anak orang kaya, tidak heran kalau semua cewek terpikat dengan Leo.
"Eh... Caistal, cowok baru tadi siapa namanya?" tanya Senja.
"Kenapa lo suka sama cowok itu?" jawab Caistal.
"Ya... kalau aku suka gimana?" ujar Senja.
"Tumben-tumben sih seorang Senja suka sama cowok " ucap Caistal.
"Hai gue boleh engga duduk disini?" tanya Leo kepada Senja.
"Eee...boleh," jawab Senja dengan muka cuek, padahal dalam hati senang sekali.
"Ih... cewek itu sombong banget, jarang-jarang cewek yang engga suka sama gue," batin Leo.
Sorenya ketika Senja sedang menunggu taksi di depan gerbang sekolah, tiba-tiba ada yang mendekatinya, seorang cowok berkacamata bermotor CB dengan beraninya menawarkan boncengan kepada Senja. Ternyata cowok itu adalah Leo.
"Yuk ikut gue aja!" ajak Leo pada Senja.
"Makasih aku lagi nunggu taksi," jawab Senja.
"Engga usah, kamu ikut aku aja daripada kelamaan," ajak Leo."
"Ya udah, beneran engga papa aku ikut kamu?" tanya Senja.
"Ya engga papa," jawab Leo.
Akhirnya Senja pun ikut dengan Leo. Beberapa menit kemudian sampai di rumah Senja.
"Punya WA?" tanya Leo.
"Punya," jawab Senja.
"Boleh minta?" tanya Leo.
"Boleh," jawab Senja.
Senja pun segera masuk ke rumah karena Senja keburu salah tingkah. Singkat cerita mereka pun semakin dekat dan berpacaran.
Di suatu pagi, Senja berubah kepada Caistal karena sudah ada yang menemaninya dimana-mana,
Orang yang menemaninya adalah Leo. "Hai, Senja!" sapa Caistal kepada temannya.
"Hai!!" jawab Senja, menghiraukan sapaan dari Caistal.
"Lo kenapa sih jadi berubah gitu sama gue, kita kan udah berteman lama dari SMP, cuma gara-gara cowok itu lo berubah sama gue?" tanya Caistal sambil marah-marah dengan Senja.
"Kok lo tau gue pacaran sama Leo?" tanya Senja.
"Lo engga perlu tau gue tau dari siapa! Yang lo harus tahu, lo berubah semenjak pacaran sama Leo," Caistal pun pergi.
Beberapa hari kemudian Caistal dan Senja mulai tidak kenal satu sama lain, Senja yang sibuk pacaran dengan Leo dan Caistal yang kesepian ditinggal temannya yang sudah bertahun-tahun menemaninya.
Sebenarnya Caistal tidak mau akhir waktunya bermusuhan dengan siapapun terutama temannya yang sudah lama itu. Senja tidak tahu kalau selama ini Caistal mempunya penyakit kanker paru-paru stadium 4 dan Caistal menyembunyikan semua itu kepada semua orang termasuk temannya sendiri, Senja. Caistal tiba-tiba pingsan di kamarnya, kemudian dibawa ke rumah sakit oleh ibu Caistal.
"Eh.... Nak kamu kenapa?" tanya ibu Caistal, tetapi Caistal tidak sadar diri.
Keesokan harinya waktu di sekolah, Leo dan Senja bertengkar karena tiba-tiba Leo meninggalkan dan memutuskan Senja tanpa alasan apa pun itu. Senja pun kesepian dan butuh teman curhat atau cerita, biasanya Senja bercerita kepada Caistal, tetapi tidak disangka Caistal meninggalkan Senja untuk selamanya. Senja pun menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada Caistal. Namun, semua itu telah berakhir.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Jalan Pelan Sampai Tujuan
*Pantun karya Muhammad Najih Syihabudin 7C Jalan-jalan ke surabaya Jangan lupa berpamitan Jika bimbang sekolah dimana Mondok saja di Al-Iman Malam-malam beli kebab
RUMAH ASA
Cerpen karya Qina Naqiya Irdhina (8D) *Juara 2 Lomba Cipta Cerpen dengan Tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus Pagi hari
PENGORBANAN PENGABDI NEGARA
Cerpen karya Gesit Surya Kusuma (9A) *Juara 3 Lomba Cipta Cerpen dengan tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus K
Kekuatanku yang Fana
Puisi karya Raihan Hafiz Ramadhan (7A) Kuayunkan pedangku tuk memerangi nafsu Kutembakkan senapanku tuk memberantas malasku Kuledakkan bomku tuk menghancurkan kenakalanku Ku
MAGHRIB (Part 2)
Cerpen karya M Hafel Bimasina (9B) “Le, itu kamu nak?” suara Bapak kembali datang dari arah dapur. Aku ragu untuk menengok ke sana. Aku masih menunggu jawaban
Aku, Kamu, dan Pena
Puisi karya Aisyah Aqlina (9F) Ini bukan tentang kita Tapi tentang aku, kamu, dan pena pena yang menggoreskan sejarah baru tentang kita di atas buku putih dan biru &n
MONDOK
Cerpen Karya Aksa Byakta Diwangkara (7A) Malam itu terasa cepat sekali. Rasanya baru sekedip mata, tapi suara kokok ayam segera terdengar. Kukkuruyukkk. “Ali, bangun Nak. Sudah s
Negeri Para Siluman
Fabel karya Achmad Zaini Dahlan (9A) Di suatu negeri, tinggallah kumpulan manusia yang sebagian besar penduduknya merupakan jelmaan dan beberapa hewan liar (siluman). Diceritak
Jaksa Muda
Cerpen karya M. Ikhsan Zain (9A) Mata Zeta melihat ke arah papan tulis yang berisikan materi-materi tentangm sejarah dan hukum-hukum. Zeta adalah siswa yang sangat rajin di kel

