PENGORBANAN PENGABDI NEGARA
Cerpen karya Gesit Surya Kusuma (9A)
*Juara 3 Lomba Cipta Cerpen dengan tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus
Kukkuruyukkk….
Suara ayam jago tetangga terdengar sangat nyaring, menyambut matahari yang mulai menampakkan cahayanya. Pagi ini cuaca sangat cerah. Cahaya matahari mulai memasuki sela-sela jendela kamar, lalu menjatuhkan cahayanya di wajah pemuda itu. Merasa silau, ia segera menarik selimut menutupi wajah, lalu berencana tidur kembali.
Tok tok tok… Belum sampai tertidur kembali, ia sudah dibangunkan oleh ibunya. “Azka! Bangun cepat, sudah siang, ayo sarapan terus mandi!!!” teriak ibunya dari luar kamar. Mendengar itu, Azka segera bangun menuju kamar mandi, mencuci mukanya sebentar lalu menghampiri ibunya di dapur.
Nampak olehnya sayur dan lauk pauk di meja makan. Ibunya lalu menghampiri Azka yang sudah duduk dan memberikan sepiring nasi. Tak banyak bicara, Azka segera mengambilnya, lalu menambah lauk dan sayur di atasnya. “Cepat makan, kalau sudah segera mandi,” ucap Ibu. “Iya Bu,” jawab Azka cepat.
Di sela-sela sarapan, Azka menanyakan keberadaan ayah kepada Ibu. “Bu, ayah dimana? Gak ikut sarapan?” tanya Azka sambil menggigit paha ayam goreng.
“Ayah masih siap-siap berangkat kerja, sebentar lagi keluar,” jawab Ibu sambil mencuci piring. Tak lama kemudian, ayah sudah sampai di dapur dengan searagam hijaunya. Melihat ayahnya duduk, Azka mengamati dengan seksama. Melihat ayahnya membawa banyak sekali barang, ia pun bertanya, “Ayah mau kemana?”
Mendengar itu, sang ayah menghela nafas Panjang lalu menjawab sambil tersenyum, “Ayah ada tugas luar kota kali ini, besok Senin ayah pulang.” Azka berusaha memastikan, “Janji ya!” Pertanyaannya ditanggapi dengan senyuman oleh sang ayah. Azka pun mulai menghitung, enam hari lagi ia akan kembali melihat ayahnya. Mereka kemudian melanjutkan sarapan, berdua. Sementara ibunya masih sibuk dengan urusan dapur.
Tapi Azka mencoba mengajak ibunya, meskipun ia telah tahu jawabannya. “Ayo Bu, sarapan dulu,” kata Azka. “Iya, nanti aja, Ibu belum selesai,” jawab sang Ibu. Azka hanya menghela nafas.
--0--
Setelah selesai sarapan, ibu dan Azka mengantar ayahnya ke depan rumah. “Pamit ya Bu, ayah berangkat dulu,” ucap ayah pada istri tercintanya. “Iya yah, hati-hati di sana ya.” Jawab ibu Azka sambil mencium tangan suaminya. Azka pun mengikuti Ibunya. “Sekolah yang benar, jadilah anak yang pintar, jaga adabnya, bertemanlah dengan baik ya!” nasihat ayah pada Azka yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Azka.
Azka mengamati ayahnya yang sedang memakai Sepatu hitam. Azka bertanya-tanya, apa gerangan yang dilakukan ayahnya sehingga ia harus sering berdua saja di rumah dengan ibunya. Merasa sedih, ia pun menoleh pada ibunya. Ia sadar, ternyata ibunya juga Nampak sedih. “Ayah, jangan pergi, di rumah saja!” kata Azka dengan nada pelan.
Sang ayah tersenyum mendengar anaknya. Selesai memakai Sepatu, ayah berdiri lalu berkata, “Tidak bisa Nak. Sudah menjadi tugas ayah mengabdi pada negara. Kelak, kamu akan paham. Ketika merah putih telah memanggil, inilah saatnya Ayah menjaganya. Tenanglah, ayah pasti tidak akan melupakan kalian, tunggulah ayah kembali!” Ucap sang ayah menenangkan Azka dan ibunya.
Tak berselang lama, truk berwarna hijau bertuliskan “TNI AD” itu berhenti di depan rumah, ayah kemudian berjalan dengan mantap dan menaiki truk. Dari atas truk, ayahnya tersenyum sambil melambaikan tangan. Azka dan ibunya pun membalasnya. Sudah terbanyang di benak keduanya, bahwa rumah ini, akan sepi tanpa ayah.
Kini, truk itu telah hilang ditelan pertigaan jalan. Azka kembali ke dalam rumah dan segera menagmbil handuk, lalu mandi. Selesai mandi, Azka segera berseragam, menjadwal Pelajaran, mengambil bekal makan siang di meja makan, dan bersiap di depan rumah.
“Ibu! Ayo berangkat! Aku sudah siap,” teriak Azka dari teras sambil mengenakan sepatunya. Ibunya yang sudah siap pun segera mengeluarkan motor. Setiap pagi, ibu akan mengantar Azka ke sekolah, kecuali ayahnya libur, Azka akan sangat senang diantar oleh ayah. Meskipun dalam setahun, bisa dihitung berapa kali.
--0--
Sesampainya di sekolah, Azka turun dari motor, lalu mencium tangan ibunya. “Azka pamit Bu,” kata Azka yang disusul dengan melepas helm. “ Iya, hati-hati di sekolah, belajar yang rajin, jangan berkelahi sama temennya ya!” ucap Ibu setengah berteriak karena Azka buru-buru masuk ke gerbang. “Iya Bu,” jawab Azka sambil melambaikan tangan.
Azka berjalan pelan menuju kelas. Sampai di kelas, ia mengambil bangku paling belakang, di samping jendela. Ia kemudian membuka jendela dan melihat ke luar. Di luar, anak-anak lain sedang sibuk bermain-main sebelum bel berbunyi. Tapi Azka malah sibuk dengan pikirannya tentang ayah. Apakah ayahnya akan baik-baik saja. Ia melamun, cukup lama.
“DOOOR!!!”
Suara balon meletus tepat di telinga Azka, membuat ia terkejut hingga jantungnya berdegup sangat keras. Abdul yang melakukan itu sangat puas, ia tertawa keras diikuti oleh teman-temannya. “Apa maksudnya HAH?” tanya Azka keras kepada Abdul sambil berdiri. Seketika suasana kelas pun menjadi sunyi. Tak terima mendengar bentakan Azka, Abdul malah melayangkan pukulan kepada Azka. Bugh. Azka tersungkur ke belakang, membuat kursi dan meja di belakangnya berantakan.
Tak mau kalah, ia pun segera bangkit, dan melayangkan pukulan ke lawannya. “Bugh!! Bugh!! Bugh!!” Abdul yang tidak siap dengan serangan itu akhirnya terjatuh ke lantai. Darah segar keluar dari hidung Abdul. Sementara pipi Azka nampak lebam. Takut Azka Kembali menyerang Abdul, ia dipegangi oleh kedua teman sekelasnya.
Di tengah kericuhan itu, pintu kelas terbuka. Ceklek. “Assalamu…” Pak Agus tidak melanjutkan salamnya, ia terkejut begitu melihat Abdul tergeletak dengan darah di pipinya dikerumuni oleh anak-anak lain. “Hei… Ada apa ini? Ha?” mendengar kemarahan Pak Agus, anak-anak berhamburan ke tempat duduk masing-masing. Tinggal Azka dan Abdul yang masih di tempat semula.
Tanpa pikir panjang, Pak Agus segera membawa keduanya ke ruang BK. Di sana mereka didudukkan dan ditanya tentang apa yang terjadi. Setelah mengetahui kronologi kejadiannya, orangtua mereka diberitahu dan diminta datang ke sekolah. Sayangnya, orangtua Abdul tidak bisa hadir, karena tuntutan pekerjaan. Sementara ibu Azka hadir tak lama setelah Guru BK memberikan kabar.
Sampai di sana, Azka bercerita kepada ibunya tentang apa yang terjadi. Setelah mendengar hal itu, ibu Azka berkata, “Nak, berkelahi bukan solusi, berkelahi tak bisa menyelesaikan masalah,!” Setelah memberikan nasihat kepada anaknya, ibu Azka menerima telefon dari orangtua Abdul. Syukurlah, keduanya bisa saling mengerti, dan menyerahkan anak-anak kepada guru di sekolah untuk dibimbing. Setelah selesai berbincang, ibu Azka nampak berbicara dengan Abdul, lalu meminta keduanya untuk saling bermaafan.
Setelah masalah selesai, ibu Azka berpamitan kepada Guru BK. Azka dan Abdul pun Kembali mengikuti pelajaran seperti biasa.
--0--
Tepat jam tiga sore, bel pulang berbunyi. Di gerbang sekolah, ibu Azka sudah menunggu ankanya pulang. Keduanya pun pulang. Tak seperti biasanya, sore ini, ibu lebih banyak diam. Begitu sampai di rumah, ibu hanya berpesan agar Azka segera membersihkan diri dan ke dapur untuk makan.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Terhitung sudah dua hari sejak ayahnya pergi. Namun pagi ini, hujan turun rintik-rintik. Azka terbangun mendengar suara tangis. Begitu sadar bahwa itu suara ibunya, ia segera menuju ruang tengah. Di sana, ibunya sedang terisak, memegangi telepon genggamnya. Tanpa bertanya, Azka pun mengambil telepon dari tangan ibunya,. Di sana ia menemukan jawaban.
Kata-kata yang tertulis di sana sungguh membuat Azka terkejut. Surat yang diterima ibunya tentang kematian sang ayah, membuat Azka ia terduduk lemas. Lalu ia berkata, “Bu, harusnya Senin besok ayah sarapan sama Azka. Kenapa ayah harus pergi Bu? Kenapa tidak yang lain saja?” Azka bertanya dengan nada frustasi. Ibunya menjawab dengan nada tenangm meski Azka tahu, setelah itu ibunya akan kembali terisak, “Nak, Ayah telah melaksanakan tugas dengan sangat baik. Ia gugur membela tanah air. Kamu, harus bangga dengan itu.” Seketika itu juga, air mata menetes di wajah Azka. Waktu terasa melambat, menghujam kesedihan tak berkesudahan di rumah Azka.
Tak lama, salah satu anggota TNI datang ke rumah duka. Memberikan kabar secara langsung, menceritakan apa yang terjadi. Dari sini, Azka tahu, bahwa ayahnya meninggal setelah terjadi kontak senjata antara TNI dengan komplotan teroris yang menyandera 26 warga. Ayahnya berhasil menggulingkan delapan teroris dan menyelamatkan semua orang yang disandra. Namun sayang, dalam pengawalan mengantar orang-orang ke tempat aman, ayahnya harus menajdi korban. Semua Sandra selamat, tapi ayah Azka, meninggal setelah mendapatkan perawatan. Berkat perjuangan sang ayah, seluruh teroris dapat ditangkap.
Meski begitu, Azka masih tak percaya dengan semua itu. Ia masih berharap, ini semua adalah mimpi. Tapi ternyata bukan, saat keluarga besar ayah dan ibunya berdatangan, disusul oleh jenazah ayahnya, ia yakin bahwa semua ini nyata. Ayahnya pun dikebumikan secara terhormat. Diiringi seluruh anggota TNI yang telah berjuang Bersama.
Do’a-do’a dilantunkan untuk ayah Azka. Setelah ayahnya dikebumikan, ia duduk bersimpuh di makam. Dalam hati, ia bertekad, akan menjadi hebat dan membanggakan seperti ayahnya. “Aku, akan menjadi TNI yang gagah dan berani, seperti ayah.” Batin Azka yang masih diliputi kesedihan.
--SELESAI--
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Jalan Pelan Sampai Tujuan
*Pantun karya Muhammad Najih Syihabudin 7C Jalan-jalan ke surabaya Jangan lupa berpamitan Jika bimbang sekolah dimana Mondok saja di Al-Iman Malam-malam beli kebab
RUMAH ASA
Cerpen karya Qina Naqiya Irdhina (8D) *Juara 2 Lomba Cipta Cerpen dengan Tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus Pagi hari
Kekuatanku yang Fana
Puisi karya Raihan Hafiz Ramadhan (7A) Kuayunkan pedangku tuk memerangi nafsu Kutembakkan senapanku tuk memberantas malasku Kuledakkan bomku tuk menghancurkan kenakalanku Ku
MAGHRIB (Part 2)
Cerpen karya M Hafel Bimasina (9B) “Le, itu kamu nak?” suara Bapak kembali datang dari arah dapur. Aku ragu untuk menengok ke sana. Aku masih menunggu jawaban
Aku, Kamu, dan Pena
Puisi karya Aisyah Aqlina (9F) Ini bukan tentang kita Tapi tentang aku, kamu, dan pena pena yang menggoreskan sejarah baru tentang kita di atas buku putih dan biru &n
MONDOK
Cerpen Karya Aksa Byakta Diwangkara (7A) Malam itu terasa cepat sekali. Rasanya baru sekedip mata, tapi suara kokok ayam segera terdengar. Kukkuruyukkk. “Ali, bangun Nak. Sudah s
Negeri Para Siluman
Fabel karya Achmad Zaini Dahlan (9A) Di suatu negeri, tinggallah kumpulan manusia yang sebagian besar penduduknya merupakan jelmaan dan beberapa hewan liar (siluman). Diceritak
Harga Sebuah Pertemanan
Cerpen karya Siti Alifatul M (9D) Pagi ini matahari bersinar cerah. Di depan gedung SMA yang megah, dua orang siswi yang sangat akrab sedang bercengkrama. Mereka adalah Ca
Jaksa Muda
Cerpen karya M. Ikhsan Zain (9A) Mata Zeta melihat ke arah papan tulis yang berisikan materi-materi tentangm sejarah dan hukum-hukum. Zeta adalah siswa yang sangat rajin di kel

