Jaksa Muda
Cerpen karya M. Ikhsan Zain (9A)
Mata Zeta melihat ke arah papan tulis yang berisikan materi-materi tentangm sejarah dan hukum-hukum. Zeta adalah siswa yang sangat rajin di kelasnya, saat ini Zeta berada di bangku sekolah menengah tepatnya kelas 9 SMP.
Sekolah kali ini telah usai Zeta masih duduk di bangkunya dan masih membaca buku tentang sejarah, tiba-tiba. “Zetaa...” datanglah sesosok perempuan dari pintu kelasnya sambil berjalan ke bangkunya. “Zet, lo belajar terus si, gak cape apa?’’
Perempuan itu lalu duduk dengan membalik kursi di depanya.
"Semua orang bisa berbeda alasan untuk belajar Nan, tapi tidak ada alasan untuk tidak belajar,’’ katanya.
Mendengar jawaban itu Nandia mengerutkan dahinya. ‘
’Lah, lo nyindir?’’
‘’Gak!’’ Zeta Menjawab dengan ketus.
Zeta Membaca hinga 30 menit lebih dan Nandia hanya memandang keluar jendela menunggu Zeta selesai. Nandia adalah orang yang mengagumi Zeta sejak kelas 2 SMP, meskipun kelasnya berbeda Nandia sering masuk kelasnya Zeta dan duduk di sebelahnya maupun di depanya. Setelah Nandia lama menunggu, akhirnya Zeta bangun dari bangkunya dan menggendong tasnya dengan bahu sebelah kanan.
‘’Aku heran sama lo Zet, di saat semuanya ingin merasakan senang lo malah sering belajar.’’ Karena mendengar itu Zeta berhenti sekejap dan melirik Nandia.
“Kesenangan orang beda-beda Nan, kaya lo yang suka gangguin gue? "
“Ih, lo tuh ga peka,” kata Nandia.
“Lah lo siapa?”
Mereka berjalan menelusuri lorong sekolah dan pulang ke rumah mereka masing masing.
1 minggu kemudian
Keesokan harinya Zeta berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya menggunakan mobil. Setelah Zeta turun dari mobil baru satu kaki turun Nandia langsung berteriak, “Zetaaa, lama amat lo.”
Nandia berlari kecil menghampiri Zeta sementara mobil ayahnya melaju meninggalkan mereka.
"Ayo Zet masuk kelas!” kata Nandia. Zeta hanya diam dan berjalan 5cm lebih maju dari Nandia. Setelah sampai lorong ada orang yang menggubrisnya.
"Eh, Zet, lo kok mau diikutin dia,” kata salah satu temannya.
Zeta hanya diam dan Nandia menjawab "Eh. Asal lo tau, Zeta itu temen gue gak usah ikut campur lo!”
“Hahaha.....” mereka pergi meninggalkan Zeta dan Nandia, kemudian masuk ke kelasnya
masing- masing.
"Oke anak anak, mari kita mulai pelajaranya" kata guru.
Pelajaran di kelas Zeta sekarang adalah IPS. Pak Imron adalah guru mapel tersebut.
"Jadi anak anak. Benua adalah massa daratan yang memiliki ciri atau karakteristik tertentu. Pada awalnya di bumi ini hanya ada satu benua yang disebut Pangea. Benua tersebut terpecah dan terpisah satu sama lain,” jelas Pak Imron.
Zeta memperhatikan sambil memegang pena di tangannya. Pak Imran menjelaskan materi itu hingga bel istirahat berbunyi, sesuai perkataan Zeta yang mau membantu Nandia untuk persiapan ujiannya.
Nandia datang ke kelasnya dan duduk di depan meja Zeta seperti biasa, teman teman kelasnya sudah terbiasa dengan kelakuan Nandia, karena itu mereka terlihat acuh dengan sikap Nandia. Setelah 15 menit menjelaskan kepada Nandia, Nandia malah mengubah rencana mereka dengan bualan.
"Zet, gue mau ngasih tau nanti malem ada film bioskop baru," kata Nandia
"Trus," "Zeta menjawab singkat seperti biasa.
"Ya, mau gak nanti malem nonton sama gue, sekali kali refreshing, kan mau ada ujian biar fresh pikiranya," Nandia merayu Zeta dengan nada bicaranya yang naik turun.
"Lah, bukannya belajar malah nonton," Zeta tak setuju dengan perkataan Nandia.
"Plis lah sekali ini aja," Nandia meyakinkan Zeta untuk menonton.
"Ya udah nanti kalo bisa," ucap Zeta.
Mata Nandia terbuka setelah mendengar jawaban dari Zeta.
"Yes... yes," Nandia berdiri dan salah tingkah mendengar jawabanya.
Malam harinya Zeta dan Nandia pergi ke bioskop dengan mobil Zeta yang berwarna merah, itu juga karena paksaan dari Nandia. Nandia memakai baju warna biru dengan lengan hanya sampai setengah siku, sedangkan Zeta hanya memakai jaket saja karena malas bepergian.
Zeta memarkinkan mobilnya di halaman bioskop, lalu mereka berdua turun dari mobil.
"Huuu, gak akan nyesel lo ikutin gue Zet," kata Nandia
Zeta dan Nandia pun masuk ke ruangan dan memilih kursi yang terdepan. Film yang dipilih oleh Nandia adalah film The Lost Symbols yang berisi 12 episode. Nandia mengetahui berbagai film karena dia adalah orang yang
sering menonton film dan jarang belajar. Mereka menghabiskan waktu 4 jam karena film ini adalah film series bergenre sejarah.
"Gimana Zet, baguskan?" Nandia bertanya ketika hendak keluar bioskop.
"Iya tuh, harus mikir juga lagi," Zeta menjawab dengan eskpresi yang biasa saja.
"Eh, asal lo tau Zet! Itu film diangkat dari novel loh, orang yang menulisnya adalah emm... kalo gak salah si Dran Brown, bahkan dia diburu oleh orang-orang Fremasony dan lluminati," cerita Nandia.
Mendengar pernyataan itu Zeta langsung sedikit terkejut.
"Yang bener lo?!" jawab Zeta seakan tak percaya.
"Ya iyaaa," kata Nandia yang senang sekali karena telah menonton bersama Zeta. Baru berjalan beberapa langkah dari bioskop Nandia menabrak seseorang yang memakai kemeja dan berdasi, sehingga kopi yang dipegang olehnya tumpah.
"Duh maaf, Pak, maaf gak liat," pintanya.
"Mbak kalau jalan liat ke depan bukan ke belakang!!!" laki-laki itu meninggikan nada bicaranya.
"Yaa maaf, Pak, gak sengaja," ucap Nandia memohon.
"Mas urusin tuh pacarnya!" ucap laki-laki itu sembari mengusap kemejanya.
"Maaf, Pak, dia bukan pacar saya apalagi adik," Zeta berkata dengan nada sedang.
"Mbak, kalau mau saya maafin ada syaratnya, Mbak," laki-laki itu tersenyum.
"Lah, Pak, pakai syarat juga?!" Nandia terkejut mendengarnya.
"Silakan dua hari lagi datang kesini Mbak, boleh minta bantuan juga kok," laki-laki itu menyodorkan sebuah undangan.
"Ya sudah. Makasih ya, Pak," kata Nandia.
Laki-laki itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lah ngrepotin gue lo," Zeta mengeluh karena Nandia membuat masalah.
"Yaa maaf," kata Nandia.
Kemudian mereka masuk mobil dan Zeta menghantarkan Nandia pulang.
Paginya Zeta sedang sarapan bersama keluarga di ruang keluarga.
"Kenapa kamu Zet," tanya ibunya.
"Itu, Ma, Nandia buat masalah," jelas Zeta.
Mendengar hal itu ibunya hampir tersedak.
"Hah, emang apa?" tanya ibu terkejut.
"Dia numpahin kopi trus kena bajunya," jawab Zeta.
"Yaudah minta maaf lah," ayahnya menyahutnya.
"Minta maafnya pake ada syarat Pa?" Zeta menjawab lalu memakan nasi dari piringnya.
"Syaratnya apa?" ibunya bertanya pada Zeta.
"Nah, itu belum tau Ma.
"Zeta menjawab dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
Pada saat istirahat seperti biasa Nandia masuk ke kelas Zeta.
"Tau gak Zet itu kertas isinya undangan pengadilan untuk jadi jaksa dan kasusnya itu lucu.
"Emang kasus apa?" Zeta mengernyitkan dahinya.
"Nikah dibawah umur, hahah," jawab Nandia.
"Oh trus?" ketus Zeta.
"Ya lo yang jadi jaksanya," Nandia mengomel dengan pede-nya.
"Lah, kok gue?!" herannya.
Zeta meletakan penanya dan melihat ke arah Nandia.
"Ya lo kan yang bisa hukum, cita-cita lo juga hakim kan, pas banget itu," ucap Nanida.
Nandia bersemangat karenanya.
Zeta bertanya pada Nandia.
"Emm, besok karenanya, Sabtu," kata Nandia
"Yaudah nanti malem gue belajar"
Hari Sabtu telah tiba Zeta dan Nandia pergi ke tempat dalam undangan itu, yaitu kantor pengadilan, dua jam perjalanan Zeta dan Nandia telah sampai di kantor Pengadilan dan disuruh untuk menunggu di ruangan yang ada di dalam sana.
"Mas, Anda yang menjadi jaksa ya, seorang ruang yang ada di dalam sana berbaju hitam dan berdasi menghampiri Zeta dan Nandia," kata seseorang.
"Ya, Pak saya," Zeta menjawab pertanyaan orang itu.
"Oh masak ke sana, Mas,"
Orang itu menunjuk ruangan yang ada patung garuda di atas pintunya. Kemudian Zeta masuk ke ruangan itu bersama Nandia. Namun, Nandia hanya boleh duduk di kursi saksi saja, sementara Zeta disuruh untuk duduk di kursi sebelah seorang laki laki & perempuan yang seumuran dengan Zeta.
Kepala hakim memukul palunga dua kali yang tandanya penghakiman ini telah dimulai. Seorang yang di duduk di samping ruangan membaca kasus orang-orang ini.
"Selamat siang para hadirin yang terhormat, kita akan memulai sidang di siang hari ini. Terdakwa telah melakukan nikah di bawah umur tanpa sepengetahuan orang tua mereka." Setelah membaca kasus tersebut orang duduk kembali.
Flashback.
"Mas, Anda yang akan menjadi jaksa ya, Mas," kata lelaki itu. Terdakwa menghampiri Zeta.
"Oh, iya saya diberi undangan untuk menjadi jaksa, gak usah panggil Mas, kita seumuran kok nama saya Zeta Barajaya," ucap Zeta..
Zeta merespon pertanyaan orang itu," Ya, makasih Zet."
'Saya bernama Gunawan Surya, panggil saya Surya saja," orang itu memperkenalkan dirinya.
Oh ya, kamu masalahnya apa ya?" tanya Zeta.
"Itu Mas, saya dituduh nikah tanpa izin orang tua. Yaa meskipun belum cukup umur, tapi orang tua dan istri saya sudah mengizinkan," jelasnya.
"Kalau begitu mudah si, Mas, serahkan pada saya," kata Zeta.
Kembali.
"Undang-undang No 16 Tahun 2019 mengatur bahwa pernikahan dini tidak dianjurkan. Pasalnya perkawinan hanya diizinkan jika wanita dan pria telah mencapai umur 19 tahun. Sementara terdakwa baru berumur 16 tahun dan belum izin kepada orang tua mereka," hakim menyampaikan kesalahan yang dilakukan mereka. Selaku jaksa Zeta berdiri dan berbicara, "Mohon maaf izinkan saya bicara, terdakwa mungkin telah menikah di bawah umur, tapi terdakwa telah diberi izin oleh orang tua mereka, kalau belum percaya tanyakan saja pada orang tua mereka."
Mendengar penjelasan itu hakim menanyakan kepada orang tua mereka
"Apakah benar itu, bapak ibu?" kata hakim.
"Benar, anak saya sudah saya beri izin," ucapnya.
Mendengar itu para hakim berdiskusi dan para saksi berbicara sendiri. Keheningan terjadi beberapa detik. "Meskipun begitu terdakwa telah melakukan pernikahan di bawah umur yang ditentukan. Karena memihak terdakwa, Zeta berdiri dan berbicara.
"Izinkan saya bicara," Zeta berdiri dan meminta izin kepada ketua hakim.
"Silahkan," ketua hakim memberikan izin pada Zeta.
"Ya benar, terdakwa telah menikah di bawah umur, tetapi lada dasarnya pasal dan undang-undang perkawinan mengatur bahwa perkawinan adalah sah apabila menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Selain itu, kedua terdakwa beragama islam yang dimana menikah hanya bersyarat sudah baligh," jelas Zeta.
Kemudian para hakim mendiskusikanya dan akhirnya terdakwa tidak dinyatakan bersalah, karena menurut hukum agamanya diperbolehkan.
Dua hari kemudian.
"Permisi, Mas. Anda yang namanya Zeta?" seorang laki-laki berdasi menghampiri Zeta yang duduk di bangku taman sekolah sambil membaca.
"Iya, saya," Zeta lalu memperhatikan laki-laki tersebut. "Selamat, Mas... Anda telah mendapatkan uang saku dan beasiswa dari Kementerian Hukum, karena dalam usia semuda ini Anda sudah bisa menjadi jaksa," ucap lelaki itu memberinya kabar dan Zeta sangat biasa saja karena latar belakangnya sebagai anak orang kaya.
Tamat.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Jalan Pelan Sampai Tujuan
*Pantun karya Muhammad Najih Syihabudin 7C Jalan-jalan ke surabaya Jangan lupa berpamitan Jika bimbang sekolah dimana Mondok saja di Al-Iman Malam-malam beli kebab
RUMAH ASA
Cerpen karya Qina Naqiya Irdhina (8D) *Juara 2 Lomba Cipta Cerpen dengan Tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus Pagi hari
PENGORBANAN PENGABDI NEGARA
Cerpen karya Gesit Surya Kusuma (9A) *Juara 3 Lomba Cipta Cerpen dengan tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus K
Kekuatanku yang Fana
Puisi karya Raihan Hafiz Ramadhan (7A) Kuayunkan pedangku tuk memerangi nafsu Kutembakkan senapanku tuk memberantas malasku Kuledakkan bomku tuk menghancurkan kenakalanku Ku
MAGHRIB (Part 2)
Cerpen karya M Hafel Bimasina (9B) “Le, itu kamu nak?” suara Bapak kembali datang dari arah dapur. Aku ragu untuk menengok ke sana. Aku masih menunggu jawaban
Aku, Kamu, dan Pena
Puisi karya Aisyah Aqlina (9F) Ini bukan tentang kita Tapi tentang aku, kamu, dan pena pena yang menggoreskan sejarah baru tentang kita di atas buku putih dan biru &n
MONDOK
Cerpen Karya Aksa Byakta Diwangkara (7A) Malam itu terasa cepat sekali. Rasanya baru sekedip mata, tapi suara kokok ayam segera terdengar. Kukkuruyukkk. “Ali, bangun Nak. Sudah s
Negeri Para Siluman
Fabel karya Achmad Zaini Dahlan (9A) Di suatu negeri, tinggallah kumpulan manusia yang sebagian besar penduduknya merupakan jelmaan dan beberapa hewan liar (siluman). Diceritak
Harga Sebuah Pertemanan
Cerpen karya Siti Alifatul M (9D) Pagi ini matahari bersinar cerah. Di depan gedung SMA yang megah, dua orang siswi yang sangat akrab sedang bercengkrama. Mereka adalah Ca

